MATA AIR YANG BENAMKAN BARA


Aku terdiam mendurah setiap tanggal lima belas. Aku merasa jatuh cinta adalah hal asing yang tak dapat dijamah akal sehat sejak setahun yang lalu. Aku selalu menerawang dengan sebilah degum dada dan darah yang menderas. Perasaan indah nan tak tergadai itu selalu membayang tatkala hidup berasa roti tanpa mentega, hambar tak terkira. Sampai Aku bertemu orang ini. Sebut saja Princess.

Aku sedang tidak ingin menganyam kalimat di angkasa karena nikmat penuh euforia ini ingin kunikmati sendiri, ingin kurasakan sendiri, tak ingin kubagi.

Waktu Aku dekat dengan Princess, Aku merasa tak ubahnya seorang biseksual. Karena Aku menyukai Dia dan cara berpikirnya. Cerdasnya dinamis luar biasa. Aku kadang ling-lung jika menyadari fakta bahwa dia masih kelas satu. Sungguh Aku terhempas seperti daun yang meresap habis ketika sampai ke tanah.



Aku juga masih meraba, rasa apa ini, apa ini jatuh cinta? Aku tidak tahu, yang pasti she drives me crazy. Tapi jika jatuh cinta itu dada berdegum tiga kali sedetik ketika memandangi fotonya di formulir pendaftaran, maka ini jatuh cinta.. Jika jatuh cinta itu selalu berharap yang baik-baik terjadi padanya, senang ketika dia berhasil, gembira bukan buatan saat melihatnya tersenyum dari jauh, berarti ini jatuh cinta.

Aku sudah mencoba untuk menafikkannya sekian lama. "bukan kok, bukan cinta. nggak. bukan,". Tapi ujung-ujungnya toh Aku menyerah juga dipeluk bayangnya.

Dia perempuan cerdas yang memprioritaskan tugas dan prestasi, Dia perempuan yang lebih suka menjaga tuturnya di depan publik, Dia klik diajak diskusi apa saja, mulai Nurdin Halid sampai Khadafi. She read newspaper! 

Senyumnya, pandangannya, bikin orang kepayang di detik pertama. Langsung tak berdaya. Cara berpikirnya sangat seksi. Ingin kucumbu cara berpikirnya. Pembawaannya santun seperti bunga sakura yang sedang bersemi. Ia lebih dingin dari bulan desember, tapi Aku sudah siapkan seember matahari yang nantinya akan kujelmakan pelangi. Walau butuh masa untuk menujuhkan warnanya.

Aku sudah tak dirundung risau ketika senja. Senja sudah dengan baik hati menyuruhku membagi beban. Senja memberiku kembang berwarna jingga, dan sekarang kelopaknya mekar indah tiga helai. Akankah kueram lagi sehingga kelopaknya enam merekah?

Jika bertepuk sebelah tangan, toh Aku sudah siap dengan berbuku jari yang menyambut siap menepuk bahu saat penolakan datang menyerang.

Dia tidak tahu Aku selalu mencari waktu untuk bertemu dengannya, Dia harusnya melihat kedua mataku berpijar resah dan jiwaku tlah lelah.

Aku berpikir sepanjang malam, Aku menarik satu konklusi. Dan suau saat Aku sangat berharap Dia memiki konklusi yang sama. Rasa ini lain. Sangat lain. mengingatkanku pada seseorang yang tanpa sengaja menjadi parameter idamanku. Dia melangkahi parameter itu tanpa syarat.

Ini lebih dari sekedar jatuh cinta, lantas mendekati dengan singkat, tembak, diterma alhamdulillah, nggak diterima yaudah. Bukan. Ini enam ratus kali lebih rumit dari cinta monyet sesederhana itu. There's a feel who wanna to get closer , ingin lebih dekat, ingin menikmati perasaan berjuta warna ini.

Dia seperti Tequila, yang mewah dan harus diapresiasi dengan penuh seni, perlahan-lahan. she's so special. Dia mampu membuat kecap lainnya menjadi nomor dua. Sungguh takkan cukup dua belas pabrik kertas untuk menumpah rah segala deskripsi keindahannya. Aku hanya mampu tiga bahasa, dan itu belum cukup untuk menggambarkan indahnya. Tak tertanding nyanyian indah burung hantu tengah malam.

Princess, oh, Princess... Aku benar-benar dimabuk bayangmu. Memikirkanmu benar-benar candu.

Popular Posts