Membicarakan Perpisahan

"HER" adalah salah satu film favorit saya. Satu-satunya film yang saya beri bintang 10 di IMDB. Hal ini tentu diikuti perdebatan panjang dengan salah seorang kawan saya yang juga sama-sama penggila film. 

"Film ini bagus, tapi nggak 10 juga," katanya. 

Bagian intelektual dalam diri saya sebenarnya setuju. Ada film-film major Hollywood yang jika dianalisa dengan mempertimbangkan keseluruhan struktur dan kontennya, masih jauh lebih bagus dan berpengaruh dibanding film Her, tapi hanya saya beri nilai 9/10 di IMDB. Misalnya American History X, The Godfather (yang masih ada om Marlon Brando-nya), Green Mile, Shawshank Redemption, American Beauty, Schindler's List, Taxi Driver, Raging Bull, Pulp Fiction, Fight Club, dan Gran Torino.

Ah, ya, tentu saja, film yang sebutkan di atas semuanya merupakan film favorit saya. Saya memang hobby membuat rating list di IMDB agar mudah memberi rekomendasi teman tentang bagus-tidaknya film. Maklum, di kampus, terutama jurusan film, waktu saya lebih senggang karena pada penjurusan semester 5 saya memilih konsenterasi kajian film. Waktu saya untuk menonton film lebih banyak daripada yang memilih konsenterasi penciptaan (penyutradaraan / editing / DOP / Audio / Artistic). Karena memang tugas kuliah saya lebih banyak menganalisa film, sehingga menonton film menjadi bagian dari perkuliahan. Luar biasa ya?

Ada yang membuat saya tergila-gila dengan film Her. Yaitu bagian emosional di dalam diri saya. Saya amat kagum dengan bagaimana cara film ini menunjukkan tanpa banyak bicara, bagaimana sebab-akibat dari perpisahan dan kesepian. 

Ada banyak cara menyikapi perpisahan. Misalnya belakangan ini kita sedang dihebohkan oleh putusnya seleb dunia maya, Awkarin yang putus dengan Gaga setelah 5 bulan pacaran. Dia membuat VLOG nangis-nangis segitunya. 

Dalam film Her, Theodore, seorang penulis yang sedang mengalami perceraian dengan istrinya yang telah dinikahinya selama bertahun-tahun, mengalami pukulan yang amat berat dan kesepian yang bukan main. Karena lebih sering sendiri, ia menjadi sering berinteraksi dengan operational system gadgetnya, yang bernama Samantha. Samantha merupakan program kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan emosi. Ya, seperti SIRI pada apple gadget, tapi dengan kemampuan emotional development.

Theodore mulai membangun hubungan cinta dengan Samantha. Di film ini, entah mengapa, penyimpangan seksual futuristik seperti ini terasa masuk akal. Kerinduannya akan kasih sayang, perhatian, komitmen, dan seks, membawanya pada situasi yang sulit membedakan antara realita dan imajinasi. Bagaimana patah hati dan rasa rindu dapat membawa kita pada situasi delusional. Ia berpacaran dengan ponselnya! 

Saya membayangkan, andaikan Awkarin dan Gaga ini sudah menikah bertahun-tahun kemudian bercerai, apa yang akan mereka lakukan? Apakah mulai berpacaran dengan galon Aqua? Atau mulai mbribik tiang bendera di SD deket rumah? Ah, paling-paling cukup ya mereka bikin VLOG nangis-nangis sambil ngenalin gebetan barunya : modem smartfren.

Perpisahan yang sedang saya hadapi sekarang, berada di antara kasus perpisahan Awkarin dan kasus perpisahan Theodore dalam film Her. Tidak ecek-ecek amat seperti kasus perpisahan Awkarin yang baru 5 bulan. Perpisahan yang saya hadapi adalah sebuah hubungan yang sudah berjalan hampir empat tahun. Sebuah hubungan dengan rencana-rencana besar, membangun sebuah perusahaan bersama, dan telah memikirkan masa depan. Perusahaan yang mulai tumbuh dan telah diliput berbagai media nasional maupun lokal.

Usaha kami ini seakan-akan seperti anak kami. Yang setelah berpisah, terasa begitu berat membicarakan hak asuhnya. Kami membangunnya dari 0, hingga menjadi seperti sekarang. Tentu perjuangan-perjuangan semacam itu merupakan kenangan yang luar biasa.

Barangkali, perpisahan suatu hubungan tidak melulu soal sudah tidak cinta lagi, benci, dan lainnya. Kadang kita berpisah karena itu adalah pilihan paling rasional yang bisa kita ambil. For greater good. 

Kasus perpisahan saya juga tidak seberat Theodore dalam film Her. Mereka sudah menikah bertahun-tahun. Tentu saja perceraian tak akan sebanding dengan putus hubungan pacaran. Kamu tak akan mendapat cap janda atau duda jika putus pacaran.

Perpisahan adalah anti klimaks dari sebuah puncak hubungan. Kadang, kita harus merasakan demam dan campak untuk membentuk sistem imunitas yang lebih kebal. Kadang, kita harus terjatuh terlebih dahulu supaya memahami caranya untuk bangkit. Kadang kita harus sakit keras agar merasa sakit kecil adalah hal yang biasa.

Inilah hidup. Kita dihadapkan pilihan-pilihan, yang akan membawa kita kepada pilihan-pilihan lain. 

Comments

  1. Sorry to hear that. Hope the best for you two. Padahal aku seneng banget liat kalian berdua ��

    ReplyDelete
  2. The choice banget yah 😂 sampe bawa2 awkarin. Makin terkenal aja deh itu bocah

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts